Rabu, 26 November 2014

Make Up dan Wanita

Berapa banyak wanita yang percaya diri tampil tanpa dress up dan make up? Sebagian wanita mungkin memang bisa seperti itu. Tapi jika mengamati fenomena yang terjadi di sekeliling kita tampaknya masih sangat banyak wanita yang mengandalkan dua ritual tersebut untuk dapat tampil percaya diri. Anda sendiri mungkin adalah salah satu dari wanita yang tak pecara diri bila tampil `polos`. Berapa kali Anda buka tas, bercermin dan lakukan touch up?

Sebagaimana dikutip dari Forbes.com, Sabtu (26/4/2014), penulis Sheryl Sandberg dalam bukunya `Lean In: Women, Work, And The Will To Lead` serta Claire Shipman dan Katy Kay melalui buku `The Confidence Code: The Science and Art of Self Assurance – What Women Should Know` memaparkan bagaimana wanita sejak kecil dikonstruksi untuk menggantungkan kepercayaan diri pada busana dan make up.

Dikatakan dalam buku tersebut bahwa kesuksesan bukan hanya ditentukan dari kompetensi tapi juga dari kepercayaan diri. Pada perihal kepercayaan diri inilah, wanita menghadapi problem yang berbeda dengan para pria. Sejak kecil kepala perempuan diisi dengan norma untuk memoles tiap bagian tubuh.

Saat mengalami transisi menuju kedewasaan, penambahan berat badan, pertumbuhan rambut-rambut di beberapa bagian tubuh dan hal-hal alamiah lainnya justru menjadi hal yang kemudian terus dilawan oleh wanita. Pengalaman berbeda dialami oleh pria yang sejak kecil sudah diakomodasi dengan norma yang lebih membebaskannya.

Ketika beranjak dewasa, perubahan alami tubuh pria lebih dapat diterima oleh sosial dan bahkan dianggap sebagai simbol-simbol kekuatan. Hal ini membuat pria memiliki pertumbuhan kepercayaan diri yang lebih baik dibanding wanita. Hasil kebudayaan seperti produk-produk kecantikan semakin menjajah rasa percaya diri wanita di tiap milimeter tubuhnya.

Kondisi alamiah tubuh wanita tak diterima oleh dunia. Untuk menghadapi dunia wanita ditekan untuk mengubah penampilannya. Busana dan make up ( id.clozette.com | Tips Make Up Buat Wanita ) menjadi tameng dari ketidakpercayaan diri wanita atas tubuhnya sendiri. Tuntutan untuk tampil menarik pada pria tak sekuat yang ada di dunia wanita.

Porsi beban kepercayaan diri yang berbeda inilah yang diangkat oleh penulis-penulis tersebut. Di kala menghadapi target karir yang sama dengan syarat kompetensi yang sama, wanita harus lebih bekerja ekstra dibandingkan dengan pria dalam menampilkan kepercayaan diri melalui sederet ritual kecantikan. Lebih parahnya lagi, berbeda dengan pria, kerja keras tersebut dilakukan dengan latar belakang pandangan tak ramah pada tubuhnya sendiri.

Yang lebih disayangkan adalah bahwa busana dan make up tersebut menjadi gantungan utama rasa percaya diri banyak wanita. Padahal ada faktor lain seperti kompetensi yang harusnya menjadi landasan kepercayaan diri wanita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar